Cerpen : Habisnya Baterai Kameraku

Habisnya Baterai Kameraku


     Setelah foto bersama yaitu sebelum pergi ke museum untuk menyelesaikan salah satu tugas, betapa terkejutnya aku. Baterai kamera yang saya beli untuk memotret benda-benda serta ruangan di Museum Fort Rotterdam telah sangat-sangat sekarat dan akan mati beberapa saat lagi. Aku segera mematikan kameraku lalu menyimpannya agar baterainya tidak habis. aku pun bersama teman-teman lalu ke bus untuk menuju ke museum tersebut.
     Di bus ada rasa deg-degan di dalam dadaku. Jangan sampai kameraku lowbatt sebelum aku sempat memotret apapun. Cuaca yang panas, semakin membuatku berkeringat deras bagaikan pancuran shower. Di perjalanan, teman-temanku banyak yang melihat ke luar untuk menyaksikan pemandangan yang indah karena kebetulan hotel tempat kami menginap agak sedikit jauh dari kota. 
     Sesampainya di sana aku langsung loncat dari bus untuk membeli minum sebelum dihidrasi karena kekurangan cairan. Tak lupa aku mentraktir salah seorang temanku yang sepertinya membuat yang lain pada cemburu karena tidak aku belikan. Aku membeli minum di kios kecil di depan museum. Di sana aku duduk dengannya sambil bercerita-cerita tentang pengalaman kita masing-masing. Kami duduk agak sedikit lama di sana. Aku minum beberapa teguk saja. Namun dia telah menghabiskan 2 gelas. Kami lalu kembali ke museum. Tak lupa aku membeli 2 botol air mineral untuk bekal nanti.
     Akupun melangkahkan kakiku masuk ke dalam museum. Aku memberikan tiket masuk yang telah di beli oleh guru wali kelasku untuk masuk. Saat aku di dalam, aku dapat melihat puluhan gedung berjejer. Aku pun menyalakan kameraku.
    “Sial, Kameraku tidak dapat menyala!” Gumamku. Aku kemudian duduk di suatu tempat duduk peristirahatan untuk menyegarkan pikiranku. Aku membersikan tempat duduknya lalu duduk sambil meminum minuman yang baru saja aku beli di luar tadi. Aku pun teringat kejadian saat kami di sekolah sampai di sini.
    Waktu itu, kami memang sedang pergi ke Galesong untuk study tour. Saat itu semangatku membara bagaikan cerahnya pagi itu. Aku beserta teman-temanku yang lainnya pergi menggunakan bus “mewah” persediaan dari Dinas Perhubungan dengan kursi yang sedikit robek dan tanpa AC dan hanya jendela yang walaupun terus dibuka masih banyak yang kepanasan. Setelah berangkat dari sekolah tak lupa kami singgah untuk mengisi bensin, kembali jalan, dan singgah lagi beberapa saat kemudian untuk makan dan menunaikan ibadah shalat. Saat kami makan itulah, aku menyalakan kamera dengan baterai yang baru aku beli itu. Aku memotret beberapa dari teman saya. Walaupun banyak yang tidak suka, tapi tak apalah kan cuman iseng-isengan dan untuk sebagai kenang-kenangan nanti.
     Di dalam bus kami tidak henti-hentinya bergosip, bernyanyi, ataupun memainkan gitar klasik yang tentunya kami bawa sendiri. Ada yang bergosip tentang inilah, ada yang bernyanyi lagu itulah, semuanya membuat suasana bus menjadi ribut dan membuat kepala orang seperti saya ini pusing tak tertahankan. Tapi ada kalanya semua menjadi diam sunyi. Bagaimana tidak? Mereka semua telah tidur nyenyak senyenyak-nyenyaknya. Aku pun yang tak tahu mau melakukan apa. Akhirnya aku memutar musik berjudul “One More Night” oleh band musik kesukaanku.
     Sesampainya di hotel saya langsung lompat tidur dan menikmati istirahatku, sementara teman-temanku yang lainnya dengan asiknya berenang di swimming pool hotel. Beberapa menit kemudian aku pun gerah dan berniat untuk mandi. Entah berapa lama aku mandi, yang jelasnya sangat lama sampai-sampai matahari sudah mau menenggelamkan diri. Setelah mandi dan tentu saja berpakaian, aku lalu mengambil kamera kesayanganku untuk memotret temanku di pantai nan indah yang terletak tepat di sebelah barat kolam renang.
     Setelah itu pun kami melakukan kegiatan kita masing-masing lalu makan malam dan akhirnya tidur. Sebelum tidur pun kami saling berebut bantal yang pastinya tidak sama banyak dengan personil kamar saya tidur. Keesokan harinya adalah hari pertama selain pada bulan puasa aku bangun jam 4 subuh atau yang saya masih kategorikan dini hari. Kami lalu naik berfoto-foto lalu mendirikan shalat wajib 2 rakaat.
     Seseorang pun mengagetkanku dari lamunanku tadi. Ternyata dia adalah teman yang baru saja aku belikan minuman tadi. Alangkah beruntungnya diriku, ternyata temanku tadi bersedia meminjamkan kameranya untukku. Kami pun memotret dan membaca tiap-tiap bagian museum. 
    Akhirnya proses pengambilan data selesai juga. Aku mulai merangkum tiap-tiap data yang telah ku catat. Aku bekerja dengan dia temanku tadi. Aku menyusunnya di Laptop Toshiba kesayanganku. Aku menyusunnya secara sangat mendetail, rinci demi rinci. Aku juga menyelinginya dengan membuka jejaring sosial kesukaanku yang memang saya akui membuat tugasku semakin lama selesai.
     Tugasku pun selesai juga. Aku mencetaknya dan menyimpannya dalam satu map. Aku menyimpan map tersebut di dalam tas ranselku bersama dengan pakaian beserta alat mandiku. Aku pun berterima-kasih dengan temanku tadi lalu makan siang. Aku dan rombongan pun pulang dengan hati gembira.


Comments