Review Film: Like Someone in Love (2012)


 Like Someone in Love

Tanggal rilis: 15 September 2012 (Jepang)
Sutradara: Abbas Kiarostami
Anggaran: 4,8 juta USD
Sinematografi: Katsumi Yanagijima
Editor: Bahman Kiarostami

Review:
Jujur saja, saya tidak begitu mengerti tentang sutradara maupun penulis dari film ini. Hanya saja ada beberapa hal tentang film ini yang menurut saya sangat menarik untuk di publikasikan.

Sepertinya saya memiliki pendapat yang sedikit berbeda dengan rata-rata reviewers film ini. Tetapi walaupun begitu, ada satu hal yang saya setujui: 'Film ini tentang apa yang ada dalam frame dan apa yang ada diluarnya.'


Saat pertama menonton film ini, terdengar suara orang menelpon meskipun tidak diperlihatkan secara langsung. Mereka seperti bertengkar. Setelah diperlihatkan ternyata ia adalah Akiko yaitu sang karakter utama.

Setelah pertengkaran via telepon, Akiko bertemu seorang pria berkisar umur 40an bernama Hiroshi. Hiroshi memperkenalkan seorang client 'yang katanya penting' agar dilayani oleh Akiko. Melalui pembicaraan ini, dapat kita simpulkan bahwa Akiko merupakan seorang 'wanita panggilan'

Ia pun bertemu client seorang kakek-kakek bernama Takashi di apartmen penuh dengan literatur. Mereka hanya ngobrol sepanjang malam. Bahkan Akiko memancing Takashi untuk bermain di ranjang, walaupun begitu Takashi menolak sampai akhirnya Akiko tertidur di ranjangnya.

Paginya, Takashi mengantar Akiko ke kampus yang ternyata adalah tempat Takashi pernah mengajar sekitar 30 tahun yang lalu. Akiko terlihat bertengkar dengan seorang pria sebayanya kemudian masuk ke dalam kampus.

Di sini sepertinya situasi mulai memanas. Pria tersebut melihat Takashi kemudian 'spek-spek' minta korek dan akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. Pria itu adalah Noriaki yang ternyata adalah pacar Akiko yang bahkan ingin mengajaknya menikah.

Melalui pembicaraan mereka, diketahui bahwa Noriaki merupakan pria dengan masalah tempramental. Takashi memberitahu kepada Noriaki bahwa ia adalah kakek dari Akiko. Bahkan memberikan sedikit saran kepadanya tentang keinginan Noriaki untuk menikah.

Setelah pertemuan mereka bertiga, Takashi kembali ke kantor lalu kemudian Akiko tiba-tiba menelpon sembari menangis. Takashi lalu segera menjemputnya dan Akiko berdarah di pipinya.

Pada scene ini, dapat kita simpulkan bahwa sepertinya Noriaki telah tahu bahwa Akiko benar-benar wanita panggilan lalu menamparnya dengan keras. Noriaki bahkan datang ke apartmen Takashi seolah-olah tidak terima bahwa Takashi telah menggunakan 'jasa' Akiko.


Secara pribadi, saya merasa bahwa Akiko sepertinya melakukan pekerjaannya hanya sebatas kenakalan remaja saja. Ia terlihat seperti telah menyesali apa yang ia perbuat dari gayanya yang menolak secara tegas permintaan Hiroshi. Hanya saja, ia mungkin hanya terjebak dalam situasi.

Kemudian, mungkin hanya saya, tetapi apakah memungkinkan bahwa Takashi memang benar-benar kakeknya? Maksudku, hal ini bisa dilihat melalui percakapan Akiko dengan tetangga Takashi yang mengatakan bahwa dulu ada hubungan antara Takashi dengan seseorang yang tidak berjalan baik.

Lalu sikap Takashi yang benar-benar tidak ingin menyentuh Akiko. Bahkan Ia sampai memberikan saran untuk kehidupan pribadinya. We just didn't do this kind of thing for a totally stranger.

Bahkan foto anak Takashi katanya 'sangat mirip' dengan Akiko. Apakah itu benar-benar hanya kebetulan? Di sini saya benar-benar tidak sependapat dengan reviewers yang mengatakan bahwa Takashi hanya sekadar 'kesepian'.

Akhir kata, menurut saya film ini bagus 'meskipun' tidak diciptakan untuk semua orang. Bahkan saya pribadi sangat 'kaget' melihat akhir cerita film ini. Saya merasa tidak terima. Masih banyak hal yang tidak jelas dan are you really sure it's supposed to be ended there?

Setiap film memiliki happy ending atau sad ending, lalu ini 'ending' apa? 'Confused Ending'? Sekali lagi, film ini membuat saya semakin percaya, bahwa film itu bukan segalanya tentang apa yang ada dalam frame, tetapi juga analisa kita tentang apa yang ada diluarnya.

- Anugrah Pratama

Comments